Renungan Harian Katolik Selasa 12 Januari 2021

706 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Selasa 12 Januari 2021
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Ibr 2:5-12
Saudara-saudara, dunia yang akan datang, yang sedang kita bicarakan, ditaklukkan oleh Allah bukan kepada malaikat-malaikat.  Sebab ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam Kitab suci,  “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Atau apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?  Namun untuk waktu yang singkat  Engkau telah membuatnya hampir setara dengan Allah,  dan memahkotai dia dengan kemuliaan dan semarak; segala-galanya telah Kautundukan di bawah kaki-Nya.”  Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada Yesus, tidak ada suatu pun yang dikecualikannya, artinya yang tidak ditaklukkan kepada Yesus.  Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. Yang kita lihat ialah bahwa untuk waktu yang singkat Yesus telah direndahkan sedikit di bawah malaikat-malaikat, tetapi oleh derita kematian-Nya Ia telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Dan berkat kasih karunia Allah  Yesus mengalami maut bagi semua orang.  Memang Allah menjadikan segala sesuatu bagi diri-Nya  dan mengantar banyak orang kepada kemuliaan.  Maka sudah sepatutnya Ia pun menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.  Sebab Dia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan  semua berasal dari Yang Satu.  Itulah sebabnya Yesus tidak malu menyebut mereka saudara,  ketika Ia berkata,  “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku,  dan memuji Engkau di tengah-tengah umat.”
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 8:2a.5.6-7. 8-9
Engkau membuat Anak-Mu berkuasa  atas segala buatan tangan-Mu.
*Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi!  Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?  Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah,  Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Kauberi dia kuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kautundukkan di bawah kakinya.  Domba, sapi dan ternak semuanya,  hewan di padang dan margasatwa; burung di udara dan ikan di laut, dan semua yang melintasi arus lautan.

Bait Pengantar Injil  1Tes 2:13
Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagaimana sebenarnya, sebagai sabda Allah.

Bacaan Injil  Mrk 1:21b-28
Pada suatu malam Sabat  Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di kota Kapernaum  dan mengajar di sana.  Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,  tidak seperti ahli-ahli Taurat.  Dalam rumah ibadat itu  ada seorang yang kerasukan roh jahat.  Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret?  Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: yakni Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya,  “Diam, keluarlah dari padanya!”  Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya,  “Apa ini? Suatu ajaran baru?  Guru ini berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepada-Nya.”  Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus  ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan Harian Katolik

Hatiku bersukaria karena Tuhan, penyelamatku , demikian bunyi refren Mazmur tanggapan hari ini. Orang bersukacita karena mengalami kekuasaan Allah yang menaungi dirinya,  Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Hana mengalami kuasa Allah melalui doa yang dipanjatkannya di Bait Suci. Pengalaman Hana menunjukkan betapa doa mempunyai kuasa yang sungguh luar biasa. Tradisi Perjanjian Lama menunjukkan bahwa dalam kesesakan, orang lari kepada Allah melalui doa. Dalam doa mereka mengkomunikasikan pengalaman hidupnya kepada Allah . Itulah doa yang sejati, yang berkaitan langsung dengan situasi konkret   hidup manusia.  Doa Hana disampaikan dalam kesunyian hati, bukan lagi mulut yang berkata kata , tetapi hatilah yang berkata kata. Doa hati itulah yang ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sering kita bisa jadi banyak berdoa dengan kata kata yang panjang, dan banyak, tetapi tidak disertai dengan hati yang diarahkan sepenuhnya kepada Allah . Novena kita buat berulang ulang demi memohon ujub tertentu, Lalu kita begitu mudah kecewa ketika merasa doa yang sudah panjang dan melelahkan itu ternyata tidak langsung dikabulkan Tuhan, Sebenarnya, kita boleh berbicara kepada Allah pun sudah merupakan suatu anugerah. Dari sebab itu, doa kita bernilai bukan karena panjang dan banyaknya kata yang terucap, bukan dari seberapa banyak  permohonan dalam doa itu yang sudah terkabul, Doa menjadi bernilai ketika kita  menjadikannya sebagai kesempatan mengkomunikasikan pengalaman hidup keseharian kita kepada Allah.

Butir permenungan

Bukankah kita sering meragukan kuasa doa hanya karena doa kita rasanya tak terjawab ? Bukankah hati kita sering merasa begitu kering sehingga kita sulit berdoa? Kemudian kita merasa jenuh, bosan, bahkan patah semangat untuk berdoa. Mengapa tidak kita bawa saja kekeringan itu , kebosanan dan kejenuhan itu sebagai bahan doa kita?  Bukankah itu kenyataan hidup kita saat itu?

Doa.

Ya Tuhan, ajarilah kami berdoa disertai dengan hati yang diarahkan sepenuhnya kepada Allah . Amin

Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagaimana sebenarnya, sebagai sabda Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *