Renungan Harian Katolik Selasa 19 Januari 2021

507 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Selasa 19 Januari 2021

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Ibr 6:10-20
Saudara-saudara, Allah bukan tidak adil. Maka tidak mungkin Ia lupa akan pekerjaan dan kasih yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya  lewat pelayananmu terhadap orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.  Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang lestari, sampai apa yang kamu harapkan akhirnya benar-benar kamu miliki. Kami ingin kalian jangan menjadi lamban, tetapi tetap bersemangat mengikuti jejak mereka  yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah. Ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya. Dalam sumpah itu Ia berjanji:  “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah  dan akan membuat engkau sangat banyak.”  Abraham menanti dengan sabar, dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Kalau orang bersumpah,  ia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan baginya sumpah itu menjadi suatu pengukuhan  yang mengakhiri segala kesangsian.  Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji,  dan supaya mereka benar-benar percaya akan putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah. Kedua kenyataan ini, janji dan sumpah, tidak berubah-ubah, dan tentang ini Allah tidak mungkin berdusta! Jadi maksud Allah mengikat janji dengan sumpah ialah:  supaya kita mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat  bahwa kita akan menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita.  Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita,  sauh yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, yakni ketika Ia, menurut tata imamat Melkisedek, menjadi Imam Agung untuk selama-lamanya.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 111:1-2.4-5.9.10c
Tuhan selamanya ingat akan perjanjian-Nya.
*Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati,  dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaat.  Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
*Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan peringatan;  Tuhan itu pengasih dan penyayang.  Kepada orang takwa diberi-Nya rezeki.
Selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya.
*Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya!  Dia akan disanjung sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil  Ef 1:17-18
Bapa Tuhan kita Yesus Kristus akan menerangi mata budi kita, agar kita mengenal harapan panggilan kita.

Bacaan Injil  Mrk 2:23-28
Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada Yesus, “Lihat!  Mengapa mereka berbuat sesuatu  yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab Yesus kepada mereka,  “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud,  ketika ia dan para pengiringnya kekurangan dan kelaparan?  Tidakkah ia masuk ke dalam Rumah Allah  waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Agung  lalu makan roti sajian – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberikannya juga kepada pengikut-pengikutnya?”  Lalu kata Yesus kepada mereka,  “Hari Sabat diadakan untuk manusia  dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah Tuhan, juga atas hari Sabat.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan Harian Katolik

Kristian adalah seorang anak Sekolah Dasar kelas tiga, ia selalu  setia pergi gereja setiap hari Minggu. Hal ini dia lakukan karena sejak masih baji sudah diajak dan diajari orang tuanya untuk pergi gereja setiap hari Minggu. Didalam gereja , Kristian juga diajari untuk berdoa sebelum dan sesudah perayaan Ekaristi, Selama perayaan Ekaristi  berlangsung , ia juga diajari untuk tenang, hening dan berdoa.  Kristian setia dan patuh akan ajaran orang tuanya bahwa hari Minggu harus pergi kegereja untuk merayakan Ekaristi. Baginya pergi ke gereja pada hari Minggu adalah kewajiban dan harus dilakukan. Kita pun sering terbesit hal semacam itu . Kita harus melakukan aturan dan peraturan dalam Gereja dengan baik. Semua harus dilakukan dan ditaati. Tidak peduli kan apa yang ada disekitar kita.  Ukuran kesetiaan bukan hanya sekedar melaksanakan aturan dengan baik dan benar. Kesetiaan pada Tuhan bukan hanya soal melakukan kehendak Tuhan  tanpa cela , tanpa melihat situasi dan kepentingan sesama disekitar kita. Seperti dalam Injil ( Mrk 2:23-24) saat para murid memetik bulir gandum pada hari Sabat menjadi batu sandungan bagi orang Farisi. Hal ini terjadi karena orang Farisi berpatokan pada hukum yang harus dilakukan. Tidak melihat dari sudut pandang kemanusiaan yang lebih penting dan mendesak. Kalau para murid memang sedang membutuhkan makan karena lapar, apakah karena hukum yang berlaku maka tidak boleh makan? Dengan demikian, demi hukum bisa menjadikan nyawa manusia tidak terselamatkan alias tidak berharga. Bagaimana dengan faktor kemanusiaan yang juga penting?

Butir permenungan.

Dalam Injil hari ini, orang Farisi mempersoalkan murid murid Yesus yang memetik gandum pada pada hari Sabat. Murid murid Yesus dinilai melanggar kebiasaan bahwa pada hari Sabat orang tidak boleh memetik gandum. Itu sudah ditetapkan dalam Hukum Taurat akan dihukum. Yesus hendak membuka kesadaran mereka dan ingin mengubah pola pikir mereka tentang hari Sabat. Yesus ingin agar mereka dan kita tidak boleh terperangkap dalam dogmatisme yang kaku, yang pada akhirnya tidak membahagiakan manusia . Yesus ingin agar dogma, aturan  dan kebiasaan membawa kebahagiaan bagi manusia. Sehingga Yesus berkata : “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” Bagaimana dengan kita? Semoga kita meneladani Santo Antonius dan menghayati pesan Injil hari ini, agar kita bisa mengubah kebiasaan kita demi kebahagiaan sesama.

Doa.

Ya Tuhan, berilah kami ketekunan untuk mewujudkan kesetiaan kepada-Mu dengan berbelas kasih kepada sesama. Jangan sampai kami melakukan peraturan secara kaku, tidak melihat situasi dan kondisi sekitar kami. Amin

Bapa Tuhan kita Yesus Kristus akan menerangi mata budi kita,
agar kita mengenal harapan panggilan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *