Renungan Harian Katolik Senin 18 Januari 2021

267 views

Renungan Harian Katolik Kalender Liturgi Senin 18 Januari 2021

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Ibr 5:1-10
Saudara-saudara, Setiap imam Agung, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Seorang imam agung harus dapat memahami orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Karena itu ia harus mempersembahkan korban pelunas dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri!  Sebab setiap imam agung dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. Demikian pula Kristus! Ia tidak mengangkat  diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Agung, tetapi diangkat oleh Dia yang bersabda kepada-Nya,  “Anak-Kulah Engkau. Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan.” atau di bagian lain dalam Kitab Suci Ia bersabda,   “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut tata imamat Melkisedek.”  Dalam hidup-Nya sebagai manusia,  Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan  dengan ratap tangis dan keluhan  kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut;  dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Akan tetapi sekalipun Anak, Kristus telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya!  Dan sesudah mencapai kesempurnaan,  Ia menjadi pokok keselamatan abadi  bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Agung oleh Allah, menurut tata imamat Melkisedek.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 110:1.2.3.4
Engkaulah imam untuk selama-lamanya  menurut Melkisedek.
Beginilah firman Tuhan kepada tuanku,
“Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kubuat menjadi tumpuan kakimu!”
*Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!
*Engkau meraja di atas gunung yang suci  sejak hari kelahiranmu,
sejak fajar masa mudamu.
*Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.”

Bait Pengantar Injil  Ibr 4:12
Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji segala pikiran dan maksud hati.

Bacaan Injil  Mrk 2:18-22
Waktu itu  murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa,  Pada suatu hari datanglah orang kepada Yesus dan berkata,  “Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka  “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut  pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya. Demikian juga  tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu, sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. Jadi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”
Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan Harian Katolik

Mengapa orang suka mempersoalkan tindakan Yesus dan para murid-Nya?  Mengapa tidak membiarkan saja, ketika para murid tidak berpuasa?  Bukankah setiap kelompok memiliki wilayahnya sendiri? Adakah sesuatu yang menyebabkan mereka bertanya?  Tampaknya mereka tersinggung, saat para  murid Tuhan Yesus tidak berpuasa, dan menganggapnya sebagai pelecehan budaya yang mereka anut. Tetapi , benarkah inti persoalan pada pelecehan budaya? Bukan, Persoalan intinya adalah memudarnya pengaruh. Sejak kehadiran Tuhan Yesus, pengaruh kaum Farisi memudar, Masyarakat kecil mulai tertarik dan beralih kepada Tuhan Yesus, yang mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa serta tidak membebani pengikut-Nya. Saat popularitas Tuhan Yesus naik, maka turunlah popularitas kaum Farisi dan pemimpin agama Yahudi , inilah akar dari iri hati, yang  melahirkan berbagai sikap semu.  Hal berpuasa : mengapa Tuhan Yesus saat itu tidak menganjurkan para murid-Nya untuk berpuasa? Karena Dia, Sang Mempelai lelaki ada bersama para murid, maka suasana pesta harus berlangsung , inilah suasana Gereja Perdana. Apa yang dilakukan orang orang pada zaman Tuhan Yesus, sering juga kita lakukan, Kita iri hati, lalu mulai mempersoalkan banyak hal. Berakar dari iri hati, lahirlah beberapa ulah. Seorang ibu diserahi memasak nasi untuk pertemuan kelompok, semula dia bersedia. Tetapi menjelang pertemuan  tiba tiba membatalkan  Kesediaannya, dengan alasan anaknya akan datang dan mengajaknya berekreasi , ibu yang sama , tiba tiba membatalkan kesediaannya untuk piknik lingkungan, Sikap ini merugikan kelompok dan terutama diri sendiri, karena orang disekitarnya akan mencabut kepercayaan padanya. Iri hati karena kurang diperhatikan, membuat ibu ini berulah demi mendapat perhatian  Kita bersama diajak untuk mengenakan Tuhan Yesus dalam hati kita. Artinya , menumbuhkan kesadaran akan Tuhan, Sang Mempelai yang berdiam didalam hati, Hal ini akan membuat hidup kita bermutu, karena kita sadar akan kehadiran Sang Teman, sehingga tindakan kita dijiwai oleh-Nya. Dengan demikian, dialog batin mudah terjadi diberbagai situasi, saat berkendaraan, bepergian, memasak, atau terbaring sakit.

Butir permenungan.

Doa , derma dan puasa adalah tiga kewajiban yang sangat diperhatikan dalam  tradisi agama Yahudi .  Dan orang orang Farisi sangat taat dengan tradisi ini . Hal inilah yang membuat orang orang Farisi mengecam Yesus ketika melihat murid murid Yesus tidak berpuasa . Mereka melontarkan pertanyaan kepada Yesus :”Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Jawaban Yesus ini mau menunjukkan bahwa para murid – Nya juga berpuasa , hanya saja waktu puasa mereka berbeda dengan waktu puasa orang orang Farisi.  Yesus juga menegaskan jawaban – Nya terhadap orang Farisi dengan perumpamaan : “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut  pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya. Demikian juga tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu, sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. “ Perumpamaan ini mau mengatakan bahwa para murid Yesus berbeda dari orang orang Farisi , sebab mereka itu bagian dari umat baru yang didasarkan pada Perjanjian Baru , Dengan demikian , Yesus mau mengajarkan kepada kita bahwa dalam melakukan Doa , Derma , dan Puasa , hendaklah kita lakukan dengan ikhlas , bukan untuk dilihat oleh orang lain .Sehingga kita bisa menjadi manusia baru dengan hidup yang baru pula dalam Roh.

Doa.

Ya Tuhan , berilah kami kesadaran agar selalu ingat akan kehadiran Roh Kudus didalam hati kami, sehingga tindakan kami sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji
segala pikiran dan maksud hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *